Selasa, 04 Maret 2014

Lolita_-_Vladimir Nabokov

imagebam.com Download (PDF)
| DropBox | 4shared |

Download (EPUB)
| DropBox4share

"LoLita, atau Pengakuan Seorang Duda," adalah dua baris judul yang mengawali serangkaian halaman ganjil yang saya terima. "Humbert Humbert," pengarang naskah itu, tewas dalam tahanan akibat penyakit jantung koroner pada 16
November 19S2, beberapa hari sebelum sidang pengadilannya dimulai. Pengacaranya, sahabat dan kolega saya, Clarence Choate Clark, Esq., yang kini bertugas di Washington DC, meminta saya menyunting naskah ini berdasarkan salah satu permintaan kliennya yang kemudian mendorong sepupu saya untuk menerbitkan naskah ini.

Keputusan Tuan Clark. mungkin dipengaruhi oleh fakta bahwa penyunting yang dipilihnya ini pernah meraih penghargaan Poling Pnze untuk sebuah karya sederhana ("Apakah Akal Sehat itu Masuk Akal?") yang membahas kegilaan dan penyimpangan seksual.

Tugas saya terbukti lebih sederhana daripada yang kami berdua duga. Selain koreksi terhadap sedikit kesalahan tata bahasa dan penyuntingan atas sejumlah hal kecil yang di luar kehendak "H. H."
sendiri masih tersirat dalam teks yang ditulisnya sebagai petunjuk mengenai tempat-tempat atau orang-orang tertentu, memoar yang luar biasa ini ditampilkan secara utuh. Nama samaran pengarangnya adalah gagasannya sendiri dan topeng ini harus dibiarkan tak terungkap sesuai permintaan yang bersangkutan. Sementara nama "Haze" hanya berima dengan nama keluarga yang sesungguhnya dari tokoh utama perempuan, nama depan si tokoh perempuan terlalu dekat dengan intisari terdalam buku ini untuk diubah. Lagi pula, tak ada (seperti pembaca nanti akan mengetahuinya sendiri) kebutuhan praktis untuk melakukan hal itu. Data mengenai kejahatan "H. H." mungkin bisa dilihat dalam berita di koran-koran pada bulan September 1952. Namun, latar penyebab dan tujuannya mungkin masih tetap akan menjadi misteri sepenuhnya jika memoar ini tak pernah saya baca.

Demi memuaskan para pembaca yang ingin mengetahui kelanjutan nasib tokoh-tokoh "nyata" di luar kisah "nyata", sejumlah detail dipaparkan seperti yang diterima dan Tuan "Windmuller" dan "Ramsdale"
yang menginginkan identitasnya dirahasiakan sehingga "bayang-bayang panjang kasus yang menyedihkan ini" tak bakal sampai terdengar oleh orang-orang di sekitar tempatnya berada. Putrinya, "Louise", kini adalah seorang mahasiswi tingkat dua, sedangkan "Mona Dahl" sedang melanjutkan pendidikan di Paris. "Rita" baru saja menikah dengan pemilik sebuah hotel di Florida. Nyonya "Richard F. Schiller" meninggal dunia saat melahirkan seorang bayi perempuan yang terlahir selamat pada Hari Natal 1952 di Gray Star, sebuah permukiman di pedalaman Amerika bagian barat laut. "Vivian Darkbloom" menulis sebuah biografi berjudul
"Isyaratku" yang akan segera terbit dan para kritisi yang telah membaca naskah itu menyebut buku tersebut sebagai karya terbaiknya. Para penjaga sejumlah pemakaman ikut menyumbang andil dengan melaporkan bahwa tiada satu pun hantu yang bergentayangan.

Bila dipandang secara sederhana sebagai sebuah novel, "Lolita"
berkaitan dengan situasi-situasi dan emosi-emosi yang akan tetap tersamar bagi para pembaca yang dilemahkan oleh penolakan-penolakan yang dangkal. Benar, tak satu pun istilah cabul ditemukan dalam keseluruhan karya ini. Seseorang tak berbudaya yang dibentuk oleh adat istiadat modern dan terbiasa membaca kata-kata cabul tanpa rasa sesal dalam sebuah novel murahan, pasti akan sangat terkejut dengan tiadanya hal-hal semacam itu dalam buku ini. Namun, jika seorang penyunting berupaya menambahi atau menghilangkan adegan-adegan yang oleh pikiran tertentu mungkin bakal disebut "merangsang" (lihat keputusan yang diambil Hakim John M. Woolsey pada 6 Desember 1933 tentang buku lain yang lebih gamblang menggambarkan hal-hal semacam itu), kita terpaksa harus membatalkan penerbitan "Lolita" karena adegan adegan itu sangat diperlukan dalam perkembangan kisah tragis yang berujung pada kemuliaan moral ini.

Orang-orang yang sinis akan berkata bahwa pornografi komersial pun memiliki dalih yang sama. Orang-orang yang terpelajar akan menimpali dengan menegaskan bahwa pengakuan penuh perasaan "H.H." ini adalah badai dalam sebuah tabung percobaan. Setidaknya, 12% lelaki dewasa di Amerika—perhitungan yang "keras" menurut Dr. Blanche Schwarzmann (berdasarkan percakapan) pernah menikmati pengalaman khusus yang digambarkan "H.H." dengan semacam keputusasaan. Jika penulis catatan harian kita yang kehilangan akal sehatnya ini meninggal dunia pada musim panas 1947, bagi seorang ahli jiwa yang cakap, tak akan ada bencana yang bakal terjadi. Namun, itu berarti juga tak akan ada buku ini.
Maafkan saya, penulis ulasan ini, karena mengulangi apa yang sering saya tekankan dalam buku-buku dan kuliah-kuliah saya, yakni bahwa kata "menyinggung" kerap merupakan sinonim untuk kata "istimewa" dan karya seni yang agung tentu saja selalu orisinal. Oleh karenanya, karya semacam itu sering muncul sebagai kejutan yang mengguncang.

Saya tak bermaksud memuji-muji "H. H." Tak perlu diragukan lagi, ia memang mengerikan, ia memang hina, ia adalah contoh penderita penyakit kusta moral, gabungan antara keganasan dan lelucon yang menyingkap sebuah penderitaan amat dahsyat, tetapi tak mengundang simpati. Anehnya, ia sangat tak terduga. Banyak pendapatnya tentang orang-orang dan peristiwa peristiwa di negeri ini terasa menggelikan.

Kejujuran yang bergaung dalam pengakuannya tidak membebaskannya dari dosa dosa yang kejam. Ia abnormal. Ia bukanlah seorang lelaki sejati. Namun, rintihan biolanya mampu menyiratkan kelembutan, sebuah kasih sayang bagi Lolita yang membuat kita terasuki oleh buku ini seraya menista pengarangnya!
Sebagai sebuah rekaman peristiwa, tak diragukan lagi "Lolita" akan menjadi sebuah kasus klasik dalam ilmu kejiwaan. Sebagai sebuah karya seni, buku ini melampaui sisi-sisi buruknya. Dan, yang lebih penting bagi kita dibandingkan bobot ilmiah dan kelayakan literernya adalah dampak moral buku ini terhadap para pembaca yang sungguh-sungguh menyimaknya, karena dalam telaah pribadi yang tajam ini tersembunyi pelajaran bagi semua orang. Bocah pembangkang, ibu yang egois, maniak yang penuh nafsu—semua ini bukan hanya tokoh-tokoh yang kuat dalam sebuah kisah yang unik: mereka memperingatkan kita terhadap kecenderungan kecenderungan yang berbahaya, mereka menunjukkan kejahatan-kejahatan yang mungkin terjadi. "Lolita" seharusnya membuat kita semua para orangtua, pekerja sosial, pendidik meningkatkan wawasan dan kewaspadaan dalam menunaikan tugas membesarkan generasi yang lebih baik dalam sebuah dunia yang lebih aman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar